
Minyak sawit murni yang dihasilkan di desa Jukwa,
Ghana. Perhatikan warna merah minyak sawit yang merupakan
beta karoten yang secara alami terdapat di minyak sawit. Pemurnian oleh industri minyak goreng menghilangkan beta karoten ini.
Minyak sawit adalah bahan memasak yang umum di negara tropis di
Afrika,
Asia Tenggara, dan sebagian
Brasil. Penggunaannya dalam industri makanan komersial di belahan negara lain didorong oleh biaya produksinya yang rendah
[7] dan kestabilan oksidatifnya ketika digunakan untuk menggoreng.
[8][9]
Maraknya perkebunan sawit telah mengundang kekhawatiran aktivis lingkungan karena besarnya penghancuran hutan untuk melakukan pertanian
monokultur kelapa sawit. Perkebunan sawit ini telah menyebabkan hilangnya habitat
orang utan di Indonesia, yang merupakan spesies yang terancam punah.
[10] Pada tahun 2004,
Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) dibentuk untuk mengarahkan kekhawatiran tersebut.
[11] Malaysia sejak 1992 telah membatasi ekspansi perkebunan sawit di wilayahnya dengan menerapkan peraturan batas minimum lahan negara sebagai hutan.
[12][13]
Manusia telah menggunakan minyak sawit sejak kurang lebih 5000 tahun yang lalu. Bukti arkeologi berupa sebuah zat yang diketahui awalnya berupa minyak sawit, ditemukan pada akhir abad ke-19 pada sebuah kuburan di
Abydos, Mesir, bertanggal 3000 SM.
[14] Diperkirakan bahwa pedagang Arab yang telah membawa minyak sawit ke Mesir.
[15]
Sejak tahun 1870an, minyak sawit menjadi ekspor utama beberapa negara di Afrika Barat seperti
Ghana dan
Nigeria meski saat ini komoditas pertanian utama negara itu telah digantikan oleh
kakao.
Nutrisi
Berbagai
makanan terproses mengandung minyak sawit sebagai bahan bakunya.
[18] USDA menyatakan bahwa minyak sawit bukanlah pengganti yang baik bagi
lemak trans.
[19]Ketika pemrosesan, sebagian minyak sawit mengalami oksidasi, dan minyak sawit yang teroksidasi ini terkait dengan berbagai risiko kesehatan yang diakibatkan oleh konsumsi minyak sawit terproses.
[20]
Berdasarkan data
WHO, konsumsi asam palmitat meningkatkan risiko timbulnya penyakit kardiovaskular seperti halnya risiko yang diakibatkan oleh
lemak trans.
[23]
Kandungan asam lemak di dalam minyak sawit yaitu:
[24]
| Kadar asam lemak dari minyak sawit |
| Jenis asam lemak | | | persen | |
| Asam miristat, jenuh, C14 |
| 1.0% |
| Asam palmitat, jenuh, C16 |
| 43.5% |
| Asam stearat, jenuh, C18 |
| 4.3% |
| Asam oleat, tak jenuh tunggal, C18 |
| 36.6% |
| Asam linoleat, tak jenuh ganda, C18 |
| 9.1% |
| Lainnya |
| 5.5% |
| hitam: jenuh; abu-abu: tak jenuh tunggal; biru: tak jenuh ganda |
Minyak sawit murni
Minyak sawit murni mengandung setidaknya 10 jenis karotena, bersama dengan
tokoferol dan
tokotrienol (anggota famili
Vitamin E),
fitosterol, dan
gikolipid.
[25] Pada sebuah penelitian yang dilakukan peada hewan pada tahun 2007, para peneliti dari
Afrika Selatan memberikan minyak sawit merah pada tikus dan menemukan bahwa terjadi pengurangan aktivitas
fosforilasi pada jantung tikus yang sebelumnya telah diberikan makanan berkolesterol tinggi.
[26]
Pada tahun 1990an, minyak sawit murni telah dikemas dan diperjualbelikan sebagai minyak goreng dan menjadi bahan campuran
mayones dan
minyak salad.
[27] Antioksidan pada minyak sawit murni seperti
tokotrienol dan
karoten memiliki manfaat bagi kesehatan.
[28][29][30] Sebuah studi pada tahun 2009 menguji laju emisi dari
akrolein, sebuah senyawa berbahaya dan tidak berbau yang dihasilkan dari pemecahan
gliserol pada proses penggorengan kentang. Minyak yang diuji diantaranya minyak sawit murni, minyak zaitun, dan minyak bunga matahari. Emisi akrolein tertinggi ada pada minyak bunga matahari dibandingkan minyak sawit dan minyak zaitun.
[31] WHO menetapkan batas konsumsi akrolein bagi manusia sebesar 7.5 miligram per hari per kilogram berat badan. Akrolein ada pada berbagai makanan yang digoreng dengan minyak seperti pada kentang goreng, meski kadarnya hanya beberapa mikrogram. Sebuah studi menyimpulkan bahwa risiko kesehatan akibat akrolein pada makanan tidak terlalu berarti dikarenakan kadarnya yang terlalu sedikit.
[32]
Minyak sawit yang dimurnikan
Setelah penggilingan, minyak sawit umumnya dimurnikan sebelum diolah menjadi berbagai produk. Pemurnian ini akan menghasilkan minyak sawit RBD (refined, bleached, and deodorized).
Pemurnian dilakukan dengan cara
fraksionasi,
kristalisasi, dan pemisahan untuk mendapatkan fraksi bahan padat (
stearin) dan bahan cair (
olein) dari minyak sawit.
[33]Selanjutnya pemisahan zat pengotor dengan proses
degumming. Minyak lalu disaring dan dijernihkan (
bleaching). Setelah itu penghilangan bau.
Minyak sawit ini lalu digunakan sebagai bahan baku berbagai produk seperti
sabun,
deterjen, dan produk lainnya. Minyak sawit RBD merupakan bahan baku industri yang dijual di berbagai pasar komoditas di seluruh dunia. Berbagai perusahaan juga memproses minyak sawit RBD lebih jauh lagi untuk mendapatkan minyak
olein dengan kemurnian lebih tinggi untuk dijual sebagai
minyak goreng.
[33]
Senyawa turunan dari asam palmitat dicampurkan dengan senyawa golongan
nafta untuk memproduksi
napalm, bahan peledak yang digunakan di
Perang Dunia II.
[34]
Saponifikasi menghasilkan asam lemak dengan
gliserin sebagai produk sampingan. Asam lemak yang dihasilkan memiliki panjang rantai karbon antara 4 hingga 18 tergantung pada jenis minyak yang bereaksi ketika itu.
[35][36]

Artikel utama untuk bagian ini adalah:
Biodiesel
Minyak sawit dapat digunakan untuk memproduksi
biodiesel.
[37] Metil ester dari minyak sawit merupakan zat mampu bakar (
flammable) yang dihasilkan dari proses
transesterifikasi. Biodiesel minyak sawit seringkali dikombinasikan dengan bahan bakar lain untuk mendapatkan campuran bahan bakar.
[ Biodiesel dari minyak sawit memenuhi standar biodiesel yang ditetapkan oleh Uni Eropa Fasilitas pengolahan minyak sawit menjadi biodiesel yang terbesar berada di
Singapura, yang dioperasikan perusahaan asal
Finlandia,
Neste Oil.
Limbah organik yang dihasilkan dari pemrosesan kelapa sawit, termasuk cangkang kelapa sawit dan tandan buah sawit, dapat digunakan untuk menghasilkan energi. Bahan bakar ini dapat ditekan menjadi
briket maupun pellet bahan bakar. Minyak goreng yang telah selesai digunakan sebagai bahan baku proses penggorengan juga dapat diproses menjadi metil ester sebagai biodiesel.
Penggunaan minyak sawit pada produksi biodiesel telah memicu kekhawatiran persaingan penggunaan minyak sawit untuk makanan sehingga menyebabkan malnutrisi di negara miskin dan berkembang. Berdasarkan data dari tahun 2008 mempublikasikan laporan bahwa minyak sawit dapat digunakan sebagai bahan pangan sekaligus bahan bakar secara berkelanjutan. Produksi biodiesel dari minyak sawit tidak mengancam
ketahanan pangan. Peningkatan permintaan terhadap biodiesel dapat meningkatkan perintaan minyak sawit di masa depan, sehingga membutuhkan perluasan perkebunan kelapa sawit.
[